https://journal3.uin-alauddin.ac.id/index.php/hisabuna/issue/feedHISABUNA: Jurnal Ilmu Falak2025-02-15T13:38:46+00:00Nurul Wakiah[email protected]Open Journal Systems<p>This journal is to develop academic insights in the field of phalactic science that integrates religion and science as well as related sciences in order to advance science. The scope of the journal is as follows:<br>- Beginning of the Kamariah Month<br>- Prayer Time<br>- Qibla Direction<br>- Eclipse<br>- Astronomy</p>https://journal3.uin-alauddin.ac.id/index.php/hisabuna/article/view/50483IMPLEMENTASI DESAIN GRAFIS DALAM PEMBELAJARAN ILMU FALAK (STUDI KASUS PRODI ILMU FALAK UIN ALAUDDIN MAKASSAR2025-02-15T13:38:34+00:00Suandi Basiri[email protected]Nurul Wakia[email protected]<p>Artikel membahas tentang Implementasi Desain Grafis dalam Pembelajaran Ilmu Falak (Studi Kasus Prodi Ilmu Falak UIN Alauddin Makassar). Pokok rumusan masalah penelitian ini selanjutnya di uraikan ke dalam dua yaitu : Pertama, Bagaimana konsep desain grafis Ilmu Falak di era digital? Kedua, Bagaimana implementasi desain grafis terhadap pengembangan ilmu falak? Jenis penelitian ini adalah <em>field research</em> (penelitian lapangan), yaitu metode yang menggambarkan serta menganalisis hasil penelitian berdasarkan fakta-fakta yang terdapat di lapangan. Kemudian jenis penelitian ini juga dapat memberikan data yang lebih spesifik dan akurat terhadap objek penelitian. Di mana, objek dalam penelitian ini mengacu pada imlementasi desain grafis pada pembelajaran ilmu falak di Prodi Ilmu Falak UIN Alauddin Makassar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa respon mahasiswa jurusan Ilmu Falak UIN Alauddin Makassar beranggapan bahwa desain grafis dalam pembelajaran ilmu falak telah terbukti meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap materi yang diajarkan sehingga menpermudah mahasiswa dalam mendapatkan informasi secara lebih efektif dan efisien tentang ilmu falak. Desain grafis juga dalam peimplentasiannya memberikan dampak positif terhadap keterampilan teknologi mahasiswa. Mahasiswa menjadi lebih terbiasa dan terampil dalam menggunakan berbagai software desain grafis yang bermanfaat tidak hanya dalam konteks pembelajaran ilmu falak seperti dalam pengunaan aplikasi Ilmu Falak. Impliakasi dari penelitian ini adalah penelitian dapat mengembangkan modul pembelajaran ilmu falak yang memanfaatkan desain grafis secara maksimal, sehingga materi dapat disampaikan dengan cara yang lebih menarik dan mudah dipahami. Penelitian lanjutan mengenai dampak jangka panjang penggunaan desain grafis dalam pembelajaran dan mengevaluasi efektivitasnya dalam berbagai mata kuliah lainnya.</p>2025-02-15T12:24:58+00:00##submission.copyrightStatement##https://journal3.uin-alauddin.ac.id/index.php/hisabuna/article/view/51251Eksplorasi Konsep Waktu Salat Dalam Al-Qur'an Perspektif Ilmu Falak2025-02-15T13:38:35+00:00Sheila Nur Alifah[email protected]Thahir Maloko[email protected]<p>Pokok permasalahan dalam riset ini adalah bagaimana eksplorasi konsep waktu salat dalam al-Qur’an perspektif ilmu falak. Penelitian ini adalah penelitian pustaka (<em>library research</em>) yang mengumpulkan data dari buku, jurnal dan sumber referensi lainnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan syar’i untuk menganalisis norma-norma hukum Islam dalam kaitannya dengan waktu salat, serta pendekatan astronomi untuk menentukan waktu salat berdasarkan posisi benda langit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa <em>pertama,</em> ayat-ayat al-Qur’an memberikan petunjuk mengenai tanda-tanda alam, seperti terbit dan terbenamnya matahari, yang digunakan dalam penentuan waktu salat. Waktu-waktu salat yang disebutkan dalam al-Qur’an memiliki landasan ilmiah yang dapat diukur dan dihitung dengan metode hisab. <em>Kedua, </em>Ilmu falak, dengan hisabnya, memungkinkan penentuan waktu salat yang akurat berdasarkan posisi matahari, yang mencakup waktu Subuh, Zuhur, Asar, Magrib dan Isya. Implikasi penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi teoretis dalam memperkuat pemahaman bahwa ajaran Islam tentang waktu salat memiliki dasar ilmiah yang dapat diterima dalam konteks ilmu pengetahuan modern. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat digunakan menjadi referensi untuk membuat jadwal salat yang lebih akurat dan dalam pengembangan aplikasi teknologi yang membantu umat Islam menentukan waktu salat dengan mudah dan tepat. </p> <p><strong>Kata kunci: </strong>Eksplorasi, Ilmu Falak, Waktu Salat</p>2025-02-15T12:32:36+00:00##submission.copyrightStatement##https://journal3.uin-alauddin.ac.id/index.php/hisabuna/article/view/50482Penentuan Arah Kiblat Menggunakan Azimuth Bintang Gienah (Studi Pengamatan Langit Di Desa Bonto Bulaeng, Kecamatan Sinoa, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan2025-02-15T13:38:36+00:00Rahmawati[email protected]Jasdar Agus[email protected]<p>Pokok masalah dalam penelitian ini adalah mengenai penentuan arah kiblat menggunaan azimuth bintang gienah di Desa Bonto Bulaeng, Kecamatan Sinoa, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Penelitian ini menyoroti penggunaan bintang sebagai panduan dalam penentuan arah kiblat serta mengevaluasi keakuratan azimuth bintang dalam proses tersebut. Metode ini merupakan penelitian lapangan <em>(Field Research Kualitatif)</em>, di mana peneliti melakukan observasi langsung terhadap objek studi. Arah kiblat ditentukan menggunakan referensi azimuth bintang gienah dengan data azimuth yang telah dihitung sebelumnya, dengan pendekatan syar'i dan astronomi melalui metode kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa azimuth bintang gienah dapat dijadikan alternatif dalam menentukan arah kiblat, khususnya pada malam hari ketika arah kiblat tidak dapat ditentukan secara langsung. Implikasi dari penelitian ini Metode azimuth bintang adalah salah satu cara untuk menentukan arah kiblat. Selain itu, objek langit lainnya yang memiliki azimuth yang bisa diukur juga bisa digunakan. Penulis berharap penelitian ini dapat memperluas pemahaman tentang pengukuran arah kiblat menggunakan objek bintang. Penggunaan azimuth bintang sebaiknya hanya dianggap sebagai alternatif dalam menentukan arah kiblat dan tidak direkomendasikan untuk pemula dalam ilmu falak dan astronomi, karena risiko kesalahan identifikasi bintang yang dapat menyebabkan ketidakakuratan.</p>2025-02-15T12:39:47+00:00##submission.copyrightStatement##https://journal3.uin-alauddin.ac.id/index.php/hisabuna/article/view/50579PUTIKA SEBAGAI METODE PENENTUAN HARI BAIK BAGI SUKU MANDAR DAN RELEVANSINYA DENGAN ILMU FALAK2025-02-15T13:38:38+00:00Pangeran[email protected]Hadi Daeng mapuna[email protected]Adriana Mustafa[email protected]<p>Penelitian ini membahas mengenai putika sebagai metode penentuan hari baik bagi suku mandar dan relevansinya dengan ilmu falak. Penelitian ini tergolong kualitatif dengan pendekatan penelitian yang digunakan adalah: syar’i, dan Antropologis. Adapun sumber data dalam penelitian ini adalah Masyrakat, Ustadz, Nelayan, annangguru, dan Budayawan. Hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa yang pertama metode putika untuk menentukan hari-hari baik bagi Suku Mandar melibatkan beberapa langkah yang terstruktur. Seperti, pengamatan kalender bulan yang dilakukan dengan memperhatikan fase-fase penting seperti bulan baru dan bulan purnama. Kemudian, tokoh adat atau tetua yang memiliki pengetahuan mendalam tentang tradisi ini dikonsultasikan untuk memberikan petunjuk. Yang kedua bahwa ilmu falak memiliki relevansi dengan metode putika dalam penentuan hari baik bagi Suku Mandar melalui penggunaan pengamatan benda langit, seperti fase bulan, yang menjadi dasar kedua metode ini. Meskipun putika lebih bersifat tradisional dan menggabungkan unsur spiritual serta kepercayaan lokal, prinsip-prinsip dasar ilmu falak tentang pergerakan benda langit memberikan kerangka ilmiah yang dapat memperkuat keakuratan metode putika. Implikasi dari penelitian ini adalah: 1) Penelitian ini juga menemukan peluang untuk mengintegrasikan metode tradisional Putika dengan ilmu falak modern, yang dapat meningkatkan akurasi penentuan hari baik dan memperkaya pemahaman budaya. 2) Penelitian ini diharapkan dapat membantu melestarikan tradisi Putika sebagai bagian dari warisan budaya Suku Mandar, untuk memastikan bahwa <sub>pengetahuan</sub> ini tidak hilang dan tetap diteruskan kepada generasi mendatang. </p>2025-02-15T12:48:39+00:00##submission.copyrightStatement##https://journal3.uin-alauddin.ac.id/index.php/hisabuna/article/view/37598UJI AKURASI INSTRUMEN UNI-ONE TRACKER DALAM PENENTUAN RUKYATUL HILAL2025-02-15T13:38:39+00:00Firdaus Farid[email protected]Fatmawati[email protected]Faisal Akib[email protected]<p>Penelitian ini membahas instrumen <em>Uni-One Tracker</em> yang dikembangkan oleh tim mahasiswa prodi Ilmu Falak UIN Alauddin Makassar dan digunakan dalam pelaksanaan Rukyatul Hilal untuk mengetahui awal bulan kamariah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui komponen dan metode penggunaan instrumen <em>Uni-One Tracker</em> serta tingkat keakuratannya dalam penentuan rukyatul hilal. Metode yang digunakan adalah penelitian lapangan dengan pendekatan deskriptif kualitatif dan pengumpulan data primer dan sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komponen instrumen <em>Uni-One Tracker</em> terdiri dari gawang lokasi, papan dial, holder handphone, tripod, waterpass, dan aplikasi dioptra. Metode penggunaannya meliputi beberapa langkah, yaitu pasang, ratakan, bidik ufuk, setting aplikasi dioptra, bidik matahari, dan amati hilal. Hasil observasi menunjukkan instrumen <em>Uni-One Tracker</em> akurat dalam melokalisir posisi hilal awal bulan kamariah, dengan selisih azimuth dan selisih ketinggian hilal tidak lebih dari satu derajat dibandingkan dengan theodolite sebagai alat pembanding. Temuan penting dari penelitian ini adalah bahwa instrumen <em>Uni-One Tracker</em> dapat menjadi opsi alat yang sederhana dan akurat dalam pelaksanaan Rukyatul Hilal. Penelitian ini dapat menjadi acuan bagi pengembangan metode pelaksanaan Rukyatul Hilal di masa depan.</p>2025-02-15T12:57:06+00:00##submission.copyrightStatement##https://journal3.uin-alauddin.ac.id/index.php/hisabuna/article/view/40485Kontribusi K.H. ZUbair Umar dalam Kitab al-Khulasah al-Wafiah pada Perkmbangan Falak di Indonesia2025-02-15T13:38:40+00:00Ahmad Tahsisul Arfah[email protected]Muh. Rasywan Syarif[email protected]<p>Perkembangan ilmu falak di Indonesia telah berlangsung lama, meski studi falak masih kurang perhatian dan langka. Hal ini karena perhitungannya yang rumit. Perkembangan ilmu falak berkaitan dengan perjalanan tokoh Nusantara ke Timur Tengah. Salah satu tokoh tersebut adalah K.H. Zubair Umar, penulis <em>al-Khulasah al-Wafiah</em>. Penelitian ini fokus pada kontribusinya dalam perkembangan ilmu falak di Indonesia melalui kitabnya. Hal ini penting karena ilmu falak memengaruhi arah kiblat dan waktu shalat umat Islam. Dalam menanggapi masalah tersebut, penulis mengadopsi pendekatan multidisiplin. Penelitian ini adalah penelitian pustaka kualitatif, dengan metode pengumpulan data dari literatur terkait. Kitab klasik <em>al-Khulasah al-Wafiah</em> oleh K.H. Zubair Umar memiliki pengaruh besar di Indonesia saat penjajahan Jepang dan awal kemerdekaan, digunakan di Lembaga kehakiman dan perhitungan waktu. Kontribusi K.H. Zubair Umar dapat dilihat dari murid-muridnya yang juga menjadi pakar ilmu falak di Indonesia. Penelitian ini mendorong pemahaman lebih dalam tentang warisan intelektual Islam dan sejarah ilmu falak serta apresiasi terhadap kontribusi ulama Muslim. Penelitian ini dapat menginspirasi penelitian lebih lanjut tentang intelektualisme Islam dan sejarah ilmu falak di Indonesia.</p>2025-02-15T13:06:58+00:00##submission.copyrightStatement##https://journal3.uin-alauddin.ac.id/index.php/hisabuna/article/view/53400ASTROFOTOGRAFI DALAM RUKYATUL HILAL PERSPEKTIF HUKUM ISLAM2025-02-15T13:38:41+00:00Nuramaliah Syamsuddin[email protected]Andi Muh. Akmal[email protected]<p>Penelitian ini berjudul astrofotografi dalam rukyatul hilal perspektif hukum Islam. Adapun fokus pada penelitian ini yaitu konsep astrofotografi dalam rukyatul hilal, implementasi astrofotografi dalam hukum Islam dan analisis hukum Islam terhadap hasil astrofotografi. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahaui kosenp astrofotografi dalam rukyatul hilal, implementasi astrofotografi dalam hukum Islam dan analisis hukum Islam terhadap hasil astrofotografi. Jenis penelitian yang dipakai oleh peneliti dalam artikel ini ialah kajian kepustakaan yang bersumber dari skripsi, jurnal, buku, maupun kajian ilmiah lainnya yang relevan dengan objek penelitian. Adapun hasil penelitian dalam artikel ini yaitu rukyatul hilal diketahui sebagai metode dalam melihat bulan untuk menentukan awal bulan Qamariyah, astrofotografi merupakan alat bantu untuk melakukan observasi tersebut. Implementasi astrofografi merupakan cara agar memudahkan dalam melakukan observasi rukyatul hilal dengan menggunakan alat. Analisis hukum Islam terkait astrofotografi dilakukan dengan pendekatan melalui <em>maslahah mursalah</em> dan kaidah-kaidah fikih terkait implementasi dari astrofotografi. Implikasi penelitian ini diharapkan memunculkan kajian ilmu falak secara khusus perihal rukyah hilal dan astrofotografi.</p>2025-02-15T13:17:47+00:00##submission.copyrightStatement##https://journal3.uin-alauddin.ac.id/index.php/hisabuna/article/view/51748Respon Mahasiswa Ilmu Falak UIN Alauddin Makassar terhadap Kebijakan Kemenag RI dalam Penentuan Awal Bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah2025-02-15T13:38:42+00:00Ayu Ashari Ayu[email protected]Rahma Amir[email protected]<p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Pokok masalah penelitian ini ialah bagaimana respon mahasiswa ilmu falak UIN Alauddin Makassar terhadap kebijakan Kemenag RI dalam penentuan awal bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah. Pokok masalah ini terbagi beberapa sub masalah yakni: <em>pertama, </em>bagaimana urgensi penentuan awal bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah. K<em>edua, </em>bagaimana pemahaman mahasiswa Ilmu Falak UIN Alauddin Makassar terhadap Kebijakan Kemenag RI dalam penentuan awal bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah. <em>Ketiga, </em>bagaimana implikasi dari respon mahasiswa Ilmu Falak UIN Alauddin Makassar terhadap penentuan Kebijakan Kemenag RI terkait penentuan Awal Bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah. Penelitian ini termasuk kedalam jenis penelitian kualitatif lapangan <em>(Field Research)</em>. Pendekatan yang dipakai yakni pendekatan astronomis serta pendekatan syar’i. Sumber data primer didapat melalui wawancara. Data sekunder didapat melalui kepustakaan yang berhubungan dengan awal bulan Hijriah. Metode pengumpulan data yakni observasi, wawancara serta dokumentasi. Teknik pengolahan serta analisis data yakni reduksi data, penyajian data, serta penarik kesimpulan. Pengujian keabsahan data dilakukan melalui teknik triangulasi. Hasil dari penelitian ini <em>pertama</em>, urgensi Penentuan Awal Bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah ialah sangat penting dalam Islam karena berdampak langsung pada pelaksanaan ibadah umat Islam. <em>Kedua, </em>Pemahaman mahasiswa Ilmu Falak UIN Alauddin Makassar tentang kebijakan Kemenag RI umumnya mendukung kebijakan Kemenag yang menggabungkan metode hisab dan rukyat karena relevan dengan ilmu yang mereka pelajari dan mengurangi perbedaan pendapat di masyarakat. Namun, mereka mengkritik inkonsistensi antara hasil hisab dan rukyat yang membingungkan masyarakat, serta menyarankan Kemenag lebih meningkatkan sosialisasi terkait prioritas metode yang digunakan agar masyarakat lebih paham. <em>Ketiga, </em>implikasi dari respon mahasiswa memiliki pandangan positif terhadap kebijakan ini karena berdampak signifikan bagi pendidikan Ilmu Falak dan penerimaan kebijakan di kalangan masyarakat. Mereka berpotensi menjadi penghubung antara teori dan praktik, serta berkontribusi dalam penyempurnaan kebijakan yang ada. Implikasi dari penelitian ini yaitu <em>pertama</em>, hasilnya dapat digunakan untuk mengevaluasi dan memperbarui kurikulum program studi Ilmu Falak dengan fokus pada peningkatan pemahaman mahasiswa tentang metode hisab dan rukyat serta kebijakan Kemenag RI. <em>Kedua</em>, penelitian ini akan membantu Kemenag RI mempertimbangkan perspektif akademik saat menentukan awal bulan Hijriyah<em>. Ketiga</em>, diharapkan mahasiswa Ilmu Falak dapat berperan aktif dalam menjembatani antara teori dan praktik serta membantu masyarakat untuk mengurangi potensi konflik dan kebingungan di kalangan umat Islam.</p> <p><strong>Kata Kunci: Respon, Mahasiswa, Kebijakan, Awal Bulan Hijriah</strong></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><em>The main problem of this research is how the response of astronomy students of UIN Alauddin Makassar to the policy of the Ministry of Religion of the Republic of Indonesia in determining the beginning of the months of Ramadhan, Shawwal, and Dzulhijjah</em><em>. The main problem is divided into several sub-problems as follows: first, how urgent is the determination of the beginning of the months of Ramadhan, Shawwal and Dzulhijjah. Second, how do students of Astronomy of UIN Alauddin Makassar understand the Policy of the Ministry of Religion of the Republic of Indonesia in determining the beginning of the months of Ramadhan, Shawwal and Dzulhijjah. Third, what are the implications of the response of Astronomy students of UIN Alauddin Makassar to the determination of the Policy of the Ministry of Religion of the Republic of Indonesia. Regarding the determination of the beginning of the month of Ramadhan, Shawwal and Dzulhijjah. This research is a type of qualitative field research (Field Research). The approach used is the astronomical approach and the shar'i approach. Primary data sources were obtained through interviews. Secondary data is obtained through literature related to the beginning of the Hijri month. Data collection methods are observation, interviews and documentation. Data processing and analysis techniques are data reduction, data presentation, and conclusion drawing. Data validity testing is done through triangulation techniques. The results of this research are first, the urgency of determining the beginning of the month of Ramadhan, Shawwal and Dzulhijjah is very important in Islam because it has a direct impact on the implementation of worship for Muslims. Second, the understanding of Astronomy students of UIN Alauddin Makassar about the policies of the Ministry of Religion of the Republic of Indonesia generally supports the policies of the Ministry of Religion which combines the hisab and rukyat methods because they are relevant to the knowledge they are learning and reduce differences of opinion in society. However, they criticized the inconsistency between the results of hisab and rukyat which confused the public, and suggested that the Ministry of Religion further increase socialization regarding the priority of the methods used so that the public understands better. Third, </em><em>the implications of the student response have a positive view of this policy because it has a significant impact on astronomy education and policy acceptance among the public. They have the potential to be a link between theory and practice, as well as contribute to the improvement of existing policies. The implications of this study are first, the results can be used to evaluate and update the curriculum of the Astronomy study program with a focus on improving students' understanding of the hisab and rukyat methods as well as the policies of the Ministry of Religion of the Republic of Indonesia. Second, this research will help the Indonesian Ministry of Religion consider an academic perspective when determining the beginning of the Hijri month. Third, it is hoped that students of Astronomy can play an active role in bridging theory and practice and helping the community to reduce the potential for conflict and confusion among Muslims.</em></p> <p><strong><em>Keywords: Response, Students, Policy, Early Hijri Month</em></strong></p>2025-02-15T13:23:04+00:00##submission.copyrightStatement##https://journal3.uin-alauddin.ac.id/index.php/hisabuna/article/view/52749Etnoastronomi Masyarakat Nelayan Cilellang Kabupaten Barru Perspektif Ilmu Falak2025-02-15T13:38:44+00:00NurHaslina Sani[email protected]Alimuddin[email protected]Irfan[email protected]<p>Penelitian ini mengkaji tentang Etnoastronomi Masyarakat Nelayan Cilellang Kabupaten Barru Perspektif Ilmu Falak. Adapun yang menjadi rumusan masalah meliputi; Bagaimana realitas etnoastronomi masyarakat nelayan Cilellang Kabupaten Barru, Bagaimana persepsi masyarakat nelayan Cilellang Kabupaten Barru terhadap etnoastronomi perspektif Ilmu Falak. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (<em>field research) </em> yang menggunakan metode kualitatif deskriptif. Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan data-data kemudian menganalisis hasil penelitian berdasarkan fakta-fakta yang diperoleh di lapangan. Pengumpulan sumber data primer adalah sumber data kepustakaan seperti buku, jurnal, disertasi yang menjadi referensi pendukung dalam penelitian. Sumber data sekunder berasal dari penelitian yang diperoleh di lapangan melalui wawancara dan dokumentasi untuk mendapatkan informasi yang jelas mengenai Etnoastronomi Masyarakat Nelayan Cilellang Kabupaten Barru Persoektif Ilmu Falak. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa Masyarakat Nelayan Desa Cilellang masih menerapkan beberapa unsur meteorologi tradisional yang kita sebut dengan etnoastronomi. Mereka menggunakan matahari, bulan dan gugusan bintang sebagai pedoman. Peredaran matahari dan bulan digunakan dengan tujuan untuk menentukan kondisi hari dan cuaca baik, buruk dalam aktivitas sehari-sehari sebagai seorang nelayan yang tercatat dalam lembaran lontara’. Rasi Bintang atau <em>anak uleng</em> digunakan sebagai tanda alam yang dapat menentukan segala arah. Dalam Ilmu Falak yang dapat digunakan dalam penentuan arah kiblat yaitu rasi bintang ursa major yaitu anak uleng kappalae yang menunjukkan arah utara dan rasi Bintang Orion yaitu <em>Anak Uleng Tellue-Tellue</em> yang menunjukkan arah barat. Diharapkan dilakukan penelitian lebih mendalam terkait tingkat keakurasian arah mata angin dengan menggunakan rasi bintang.</p> <p><strong>Kata Kunci: </strong><strong>Etnoastronomi</strong><strong>, </strong><strong>Masyarakat Nelayan</strong><strong>, </strong><strong>Ilmu Falak</strong></p>2025-02-15T13:30:02+00:00##submission.copyrightStatement##https://journal3.uin-alauddin.ac.id/index.php/hisabuna/article/view/37601Studi Analisis Rasi Bintang Orion Sebagai Acuan Penentu Arah Kiblat di Malam Hari Perspektif Astronomi2025-02-15T13:38:45+00:00Sulnanda[email protected]Rahmatiah,HL[email protected]Sippah Chotban[email protected]<p>Arah kiblat sadalah arah yang dijadikan tumpuan bagi umat islam dalam melaksanakan ibadah. Matahari, bintang, dan benda langit lainnya telah digunakan oleh peradaban manusia sebagai petunjuk untuk menetapkan posisinya selama beberapa abad, dan sangat erat kaitannya dengan pelaksanaan ibadah. Sebagai penerang dan penghias langit terdapat Rasi Bintang yang digunakan sebagai acuan di malam hari. Karena pada malam hari Rasi Bintang dapat di jadikan arah. Rasi bintang Orion berfungsi sebagai penunjuk jalan bagi nelayan dan semua umat manusia karena terlalu muda untuk dilihat dengan mata telanjang dengan posisinya yang mengarah ke barat. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian penelitian kepustakaan “<em>Library Research</em>” mengacu pada jenis penelitian ini, yang menggambarkan pokok bahasan secara akurat, sistematis, dan normatif terhadap objeknya. Sumber data yang digunakan yaitu data primer dan data sekunder, Data Primer penelitian ini adalah data yang diperoleh langsung dari topik penelitian yang akan di teliti atau alat pengumpul data yang langsung dijadikan topik, yang merupakan sumber informasi yang dicari. Data Sekunder dalam penelitian ini merupakan sumber informasi yang mendukung penelitian ini, Dari hasil penelitian ini diperoleh bahwa 1. Identifikasi Rasi Bintang Orion Sebagai..Acuan..Penentu Arah Kiblat di Malam Hari. 2. Keakurasian Rasi Bintang Orion Sebagai Acuan Penentu.Arah.Kiblat di Malam.Hari. Arah kiblat pada malam hari dapat ditentukan dengan mengacu pada rasi bintang Orion. Dengan menggunakan salah satu bintangnya yaitu Rigel sebagai patokan penentuan arah kiblat, yaitu dengan mengetahui azimuth bintang tersebut, yang dapat diamati menggunakan aplikasi stellarium, atau dengan menggunakan data dan rumus untuk menentukan arah kiblat dengan menggunakan azimuth bintang Rigel. Hasil setelah tiga kali perbandingan, hanya ada selisih satu menit dan satu detik antara azimuth Matahari dan bintang Rigel, menurut perhitungan, hal ini menandakan bahwa bintang Rigel akurat sebagai acuan penentuan arah kiblat pada malam hari. Implikasi penelitian ini ialah penggunaan bintang Rigel pada rasi bintang Orion dalam penelitian ini yaitu digunakan sebagai alternatif untuk menentukan arah kiblat di malam hari.</p>2025-02-15T13:37:16+00:00##submission.copyrightStatement##