Kerukunan Dalam Beragama: Koeksistensi Antar Agama Dalam Upacara Rambu Solo Tana Toraja
Abstrak
Kerukunan antar agama merupakan landasan penting dalam membangun masyarakat yang harmonis dan inklusif. Salah satu contoh konkret dari kerukunan ini dapat ditemukan dalam praktik upacara Rambu Solo di Indonesia. Upacara Rambu Solo adalah ritual kematian yang dilakukan oleh suku Toraja di Sulawesi Selatan. Meskipun upacara ini berasal dari tradisi suku Toraja yang menganut agama animisme, namun praktiknya telah mengakomodasi keberagaman agama di Indonesia. Tulisan ini bertujuan untuk melihat bagaimana praktik koeksistensi antar agama terwujud dalam upacara Rambu Solo di Tana Toraja. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan data primer. adapun data yang diperoleh yaitu dengan cara menyaksikan langsung pelaksanaan upacara Rambu Solo serta, melakukan wawancara yaitu proses tanya-jawab yang dilakukan secara terstruktur untuk memperoleh data terkait apa yang akan diteliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, dalam upacara Rambu Solo, terdapat koeksistensi yang kuat antara agama animisme, Kristen Protestan, dan Islam. Keluarga Toraja yang menganut agama animisme meyakini bahwa roh orang yang meninggal harus dipandu menuju kehidupan setelah mati yang lebih baik. Mereka melibatkan tokoh adat dalam upacara ini. Namun, dengan adanya pengaruh Kristen Protestan dan Islam di wilayah tersebut, unsur-unsur dari kedua agama ini juga dimasukkan ke dalam upacara Rambu Solo. Koeksistensi antar agama dalam upacara Rambu Solo tercermin dalam partisipasi aktif masyarakat setempat. Tidak hanya anggota suku Toraja yang beragama animisme yang terlibat, tetapi juga anggota suku lain yang menganut agama Kristen atau Islam. Masyarakat setempat saling bekerja sama untuk mempersiapkan upacara ini, dengan menghormati perbedaan agama satu sama lain. Kerukunan dalam beragama dalam konteks upacara Rambu Solo memiliki dampak yang positif bagi masyarakat. Praktik ini menguatkan ikatan sosial, memperkuat hubungan antaragama, dan menciptakan rasa saling menghormati dan toleransi. Ini juga merupakan contoh inspiratif bagi negara-negara dengan keragaman agama yang tinggi untuk mempromosikan kerukunan dan koeksistensi dalam kehidupan sehari-hari.
##submission.citations##
Anjum Rafique Muhammad. Concept of Peace in World’s Major Religions: An Analysis, Dalam International Journal Of Scientific And Research Publications, Volume 7, Issue 4, April 2017.
Baturante, Nurdin. Toraja Tongkonan dan Kerukunan. Makassar. Pustaka al-Zikra, 2019.
Dopen M. Frans. A Social History of an Indonesia People, Jakarta: INDOCULT, 2002.
Musyarif, Hasnani, Dkk. Kerukunan Umat Beragama di Kabupaten Tana Toraja (Analisis Hubungan Umat Islam dan Kristen), IAIN Pare-pare Nusantara Press, 2019.
P. Liamputtong. Research Methods in Health: Foundations for Evidence-based Practice. Oxford University Press. 2013
P. M. Grepin, Rambu Solo: Understanding the Funeral Rituals of the Toraja People. Journal of Cultural Anthropology, 42(2). 2019.
Paisal. Torayaan Menjalin Dan Merayakan Kerukunan (Praktik Kerukunan Umat Beragama Di Tondok Lepongan Bulan Tana Toraja), Al-Qalam, Vol. 25, No. 2, 2019.
Panggarra Robi Pdt. Upacara Rambu Solo di Tana Toraja: Memahami Bentuk Kerukunan di Tengah Situasi Konflik, Cet. 1, 2015.
Sarira, YA. Rambu Solo dan Persepsi Orang Kristen tentang Rambu Solo: Tana Toraja, Pusbang Gereja Toraja, 1996
Tyler Aaron. Islam, The West, and Tolerance, Conceiving Coexistence (New York: Palgrave Macmillan, 2008).
Internet
Lihat, "coexistence", diakses pada tanggal 9 Maret 2023, http://www.thefreedictionary.com/coexistence.
"Upacara Toraja." Wikipedia”. Diakses pada tanggal 9 Maret 2023, dari https://id.wikipedia.org/wiki/Upacara_Toraja#Rambu_Solo.
"Rambu Solo: Upacara Pemakaman Adat Toraja." Indonesia Kaya. Diakses pada 24 Mei 2023, dari https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/rambu-solo-upacara-pemakaman-adat-toraja.